Jumat, 03 Mei 2013

Teori Psikoanalisis


Carl Gustav Jung
Carl Gustav Jung (1875-1961), rekan awal freud yang lain, juga merasa tidak setuju terhadap pokok-pokok dasar yang di kemukakan Freud. Ia memisahkan diri dari Freud untuk membentuk Aliran Psikologi Analitik. Sumbangan-sumbangannya yang utama berpusat sekitar hal-hal yang berikut.
·         Teori libido
Libido adalah energy kehidupan, tetapi ia juga secara berganti-ganti memakai libido dengan energy psikis. Energy psikis yang dikemukakan Jung tidak pertama-tama bersifat seksual. Energy psikis itu menjalankan karya kepribadian dan merupakan manifestasi energy kehidupan, yakni energy organisme sebagai sistem fisiologis. Energy psikis sama seperti halnya dengan seluruh energy yang sangat penting berasal dari proses-proses tubuh metabolis.
·         Kesadaran (Ego)
- Sama seperti kesadaran Freud
- tanda-tanda persepsi, ingatan-ingatan, pikiran-pikiran, perasaan sadar
·         Ketidaksadaran:
a. Ketidaksadaran personal
- Freud’s Preconscious & Unconscious
- Pengalaman2 yg pernah disadari tapi dilupakan atau diabaikan atau lemah
- Materi ketidaksadaran personalà “Kompleks” merupakan akumulasi dari kumpulan gagasan yang diwarnai dengan perasaan.
 b. Ketidaksadaran kolektif
-          Kondisi psikis yg potensial, diturunkan dari generasi ke generasi.
-          Deeper level of the unconscious
-          Komponen strukturalà Arketipe (Archetype)
  
·         Arktipe
Pola emosi yang telah terbentuk lama yang muncul sebagai reaksi atas pengalaman-pengalaman. Mempengaruhi manusia untuk bereaksi dengan cara-cara yang dapat diprediksi pada stimulus tertentu
Konsep lain: Persona, Shadow, Anima, Animus, Great mother, Wise old man, Hero dan Self.
v  PersonaàSisi kepribadian yang ditunjukkan pada dunia.
v  Shadowà Arketipe dari kegelapan dan represi yg menampilkan kualitas-kualitas yg tidak kita akui keberadaannya, berusaha disembunyikan dari diri sendiri dan orang lain
v  Anima à Elemen feminin pada pria
v  Animusà Elemen maskulin pada wanita
v  Great motherà dorongan untuk kesuburan dan pengasuhan vs mengabaikan dan menghancurkan.
v  Wise old manà Arketipe dari kebijaksanaan dan keberartian yang menyimbolkan pengetahuan manusia akan misteri kehidupan
v  Hero (Pahlawan)à Arketipe pahlawan direpresentasikan sebagai sosok yg kuat, melawan kejahatan
v  Self (Diri)à Arketipe paling komprehensif, disimbolkan sebagai ide seseorang akan kesempurnaan, keutuhan dan kelengkapan.
·                  Dinamika Kepribadian
Ø  Kausalitas dan Teleologi
-          Freudà Kausalitas (sikap seseorang pada masa dewasanya bergantung pada pengalaman masa kecilnya)
-          Adlerà Teleologi (seseorang termotivasi oleh persepsi kesadaran dan ketidaksadaran dari tujuan akhir fiktif)
-          Jungà Kausalitas dan Teleologi harus seimbang.
Pendapat Jung pada keseimbangan terlihat dari konsepnya tentang mimpi.
Ø  Progresi dan Regresi
-          Progresià adaptasi kepada dunia luar. Manusia bereaksi secara konsisten terhadap kondisi lingkungan tertentu. 
-          Regresià adaptasi ke dalam. Langkah mundur yang diperlukan dalam sebuah perjalanan menuju kesuksesan.
·                  Tipe Psikologis (Sikap dan Fungsi)
Jung membedakan dua sikap atau orientasi utama kepribadian yakni:
            (i) Introversià mengarahkan seseorang ke dunia dalam, dunia subjektif
            (ii) Ekstroversià mengarahkan seseorang ke dunia luar, dunia objektif
            Jungà orang yang sehat secara psikologis akan mendapati dirinya berada dalam keseimbangan dari dua jenis sikap ini dan merasa nyaman dengan dunia internal dan eksternalnya.
-          4 fungsi tersebut:
            1. Sensing (fungsi yang memungkinkan manusia untuk menerima rangsangan fisik dan mengubahnya ke dalam bentuk kesadaran perseptual)
            2. Thinking (aktivitas intelektual logika yang dapat memproduksi serangkaian ide)
            3. Feeling (proses evaluasi sebuah ide atau kejadian)
            4. Intuiting (persepsi yang berada jauh di luar sistem kesadaran)
·                  Perkembangan Kepribadian
-          Tahap perkembangan dibagi menjadi 4 masa:
            1. Masa kanak-kanak
            2. Masa muda (youth)
            3.Masa pertengahan (paruh baya)
4. Masa tua (old age)
-          Masa kanak-kanak, dibagi menjadi 3 bagian :
1. Anarkis
Kesadaran yang kacau dan sporadis
2. Monarkis
Perkembangan ego dan mulainya masa berpikir secara logis dan verbal
3. Dualistis
Ego terbagi menjadi subjektif dan objektif, anak-anak menyadari dirinya sebagai orang pertama dan mulai sadar akan eksistensinya sebagai individu yang terpisah.
-        Jungà kepribadian berkembang melalui serangkaian tahap yang berujung pada sebuah keutuhan pribadi atau realisasi diri.
-          Kelahiran kembali psikologis disebut dengan realisasi diri atau individuasi.
àProses untuk menjadi seseorang atau seseorang secara utuh (proses penyatuan dua kutub menjadi sebuah individu yang homogen). Orang yang telah melewati proses ini telah meminimalkan persona mereka, mengenali anima dan animusnya serta telah mencapai keseimbangan introversi dan ekstraversinya.

Daftar Pustaka : 
Feist, J dan Feist, Gregory. J. 2011. Teori kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta : Kanisius

Teori Humanistik



Carl Ransom Rogers
Teori yang Berpusat pada Pribadi
Pada tahun-tahun awal, pendekatan yang dilakukan Rogers dikenal dengan “nondirective”, istilah tidak menyenangkan yang diasosiakan dengan namanya dalam waktu yang cukup lama. Kemudian, pendekatan tersebut memakai beragam istilah, antara lain pendekatan “yang berpusat pada klien” (client-centered), “yang berpusat pada pribadi” (person-centered), “yang berpusat pada siswa” (student-centered), “yang berpusat pada kelompok” (group-centered), dan “person-to-person”. Kita menggunakan penamaan yang berpusat pada klien untuk merujuk terapi Rogers dan istilah yang lebih luas, yaitu  person-centered untuk merujuk pada teori kepribadian Rogers.
Asumsi Dasar
1.      Kecenderungan Formatif
Rogers yakin bahwa terdapat kecenderungan dari setiap hal, baik organic maupun non-organik, untuk berevolusi dari bentuk yang sederhana menjadi bentuk yang lebih kompleks. Untuk alam semesta, terjadi sebuah proses kreatif, dan bukan proses disintegrasi. Rogers menyebut proses ini sebagai kecenderungan formatif dan banyak mengambil contoh-contoh dari alam. Sebagai contoh, galaks bintang yang kompleks terbentuk dari massa yang kurang terorganisasi dengan baik; Kristal seperti bunga es muncul dari uap yang tidak berbentuk ; organisme kompleks berkembang dari sebuah sel; dan kesadaran manusia merupakan evolusi dari ketidaksadaran primitive menjadi kesadaran yang teratur.
2.      Kecenderungan Aktualisasi
Asumsi yang yang saling berkaitan dan relavan adalah kecenderungan aktualisasi atau kecenderungan setiap manusia (selain hewan lain dan tanaman) untuk bergerak menuju keutuhan atau pemuasan dari potensi (Rogers, 1959,1980). Kebutuhan untuk memuaskan dorongan lapar , untuk mengekspresikan emosi mendalam yang mereka rasakan, dan untuk menerima diri seseorang adalah contoh-contoh dari motif aktualisasi. Kecenderungan untuk memelihara dan meningkatkan suatu organisme, termasuk ke dalam kecenderungan aktualisasi.
Diri dan Aktualisasi Diri
Menurut Rogers (1959), bayi mulai mengembangkan konsep diri yang samar saat sebagian pengalaman mereka telah dipersonalisasikan dan dibedakan dalam kesadaran pengalaman sebagai “aku” (“I”) atau “diriku” (“me”). Kemudian bayi secara bertahap menjadi sadar akan identitas dirinya saat mereka belajar apa yang terasa baik dan apa yang terasa buruk, apa yang terasa menyenangkan dan apa yang tidak.
Aktualisasi diri (self-actualization) merupakan bagian dari kecenderungan aktualisasi sehingga tidak sama dengan kecenderungan itu sendiri. Aktualisasi diri adalah kecenderungan untuk mengaktualisasikan diri sebagaimana yang dirasakan dalam kesadaran.
Konsep diri
Konsep diri meliputi seluruh aspek dalam keberadaan dan pengalaman seseorang yang disadari (walaupun tidak selalu akurat) oleh individu tersebut. Konsep diri tidak identik dengan diri organismik. Bagian –bagian dari diri organsmik berada di luar kesadaran seseorang atau tidak dimiliki oleh orang tersebut. Demikian pula, manusia dapat menyangkal beberapa aspek dalam dirinya seperti pengalaman dengan kebohongan, saat pengalaman tersebut tidak konsisten dengan konsep diri mereka.
Saat manusia sudah membentuk konsep dirinya, ia akan menemukan kesuliatan dalam menerima perubahan dan pembelajaran yang penting. Pengalaman yang tidak konsisten dengan konsep diri mereka, biasanya disangkal atau hanya diterima dengan bentuk yang telah didistorsi atau diubah.
Diri Ideal
Subsistem kedua dari diri adalah diri ideal, yang di definisikan sebagai pandangan seseorang atas diri sebagaimana yang diharapkannya. Diri ideal meliputi semua atribut, biasanya yang positif, yang ingin dimiliki oleh seseorang. Perbedaan yang besar antara diri ideal dan konsep diri mengindikasikan inkongruensi dan merupakan kepribadian yang tidak sehat. Individu yang sehat secara psikologis, melihat sedikit perbedaan antara konsep dirinya dengan apa yang mereka inginkan secara ideal.

Daftar Pustaka : Feist, J dan Feist, Gregory. J. 2011. Teori kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika

Rabu, 03 April 2013

TEORI PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN


·         Menurut Erik H Erikson
Teori perkembangan menurut Erik h. Erikson sangat di pengaruhi oleh psikoanalisa freud (dalam Irwanto, 1996). Beliau tidak mendasarkan teori perkembangannya pada libido, melainkan pada pengaruh social budaya di lingkungan individu. Bagi Erikson, krisis bukan merupakan malapetaka, tetapi suatu titik tolak perkembangan psikososial Erikson dibagi menjadi delapan tahap.
a.       Basic Trust vs Basic Mistrust (0-1 tahun)
Masa bayi (infancy) ditandai adanya kecenderungan trust – mistrust. Perilaku bayi didasari oleh dorongan mempercayai atau tidak mempercayai orang-orang di sekitarnya. Dia sepenuhnya mempercayai orang tuanya, tetapi orang yang dianggap asing dia tidak akan mempercayainya. Oleh karena itu kadang-kadang bayi menangis bila di pangku oleh orang yang tidak dikenalnya. Ia bukan saja tidak percaya kepada orang-orang yang asing tetapi juga kepada benda asing, tempat asing, suara asing, perlakuan asing dan sebagainya. Kalau menghadapi situasi-situasi tersebut seringkali bayi menangis.

b.      Autonomy vs Shame & Doubt (2-3 tahun)
Organ – organ tubuh masa usia ini sudah lebih masak dan terkoordinasi. Anak dapat melakukan aktivitas secara lebih meluas dan bervariasi oleh karena itu konflik yang di hadapi anak dalam tahap ini adalah perasaan mandiri vs perasaan malu dan ragu-ragu. Pengakuan, pujian, perhatian serta dorongan yang akan menimbulkan perasaan, percaya diri, memperkuat egonya. Bila sebaliknya yang terjadi, maka akan berkembang perasaan ragu-ragu. Kedua orang tua merupakan obyek social terdekat bagi anak.

c.       Initiative vs Guilt (3-6 tahun)
Bila tahap sebelumnya anak mengembangkan perasaan percaya diri dan mandiri, maka ia akan berani mengambil inisiatif, yaitu perasaan bebas untuk melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri. Tetapi bila pada tahap sebelumnya ia mengembangkan perasaan ragu-ragu, maka ia akan selalu merasa bersalah. Ia tidak berani melakukan segala sesuatu atas kehendak sendiri.

d.      Industry vs inferiority (6-11 tahun)
Masa Sekolah (School Age) ditandai adanya kecenderungan industry–inferiority. Sebagai kelanjutan dari perkembangan tahap sebelumnya, pada masa ini anak sangat aktif mempelajari apa saja yang ada di lingkungannya. Anak sudah mulai mampu melakukan pemikiran logis. Dorongan untuk mengatahui dan berbuat terhadap lingkungannya sangat besar, tetapi di pihak lain karena keterbatasan-keterbatasan kemampuan dan pengetahuannya kadang-kadang dia menghadapi kesukaran, hambatan bahkan kegagalan. Hambatan dan kegagalan ini dapat menyebabkan anak merasa rendah diri.
e.       Indentity vs role confusion (mulai 12 tahun)
Tahap kelima merupakan tahap adolesen (remaja), yang dimulai pada saat masa puber dan berakhir pada usia 18 atau 20 tahun. Masa Remaja (adolescence) ditandai adanya kecenderungan identity – Identity Confusion. Sebagai persiapan ke arah kedewasaan didukung pula oleh kemampuan dan kecakapan-kecakapan yang dimilikinya dia berusaha untuk membentuk dan memperlihatkan identitas diri, ciri-ciri yang khas dari dirinya. Dorongan membentuk dan memperlihatkan identitasdiri ini, pada para remaja sering sekali sangat ekstrim dan berlebihan, sehingga tidak jarang dipandang oleh lingkungannya sebagai penyimpangan atau kenakalan. Dorongan pembentukan identitas diri yang kuat di satu pihak, sering diimbangi oleh rasa setia kawan dan toleransi yang besar terhadap kelompok sebayanya. Di antara kelompok sebaya mereka mengadakan pembagian peran, dan seringkali mereka sangat patuh terhadap peran yang diberikan kepada masing-masing anggota.
f.       Intimacy vs Isolation
Individu sudah mulai mencari-cari pasangan hidup. Oleh karena itu, konflik yang dihadapi adalah kesiapan untuk berhubungan secara akrab dengan orang lain vs perasaan terkuat. Seseorang yang berhasil membagi kasih saying dan perhatian dengan orang lain akan mendapatkan kemesraan dan keintiman. Sedang yang tidak dapat membagi kasih akan merasa terasing atau terkecil.
g.      Generativity vs Self-absorbtion
Krisis yang dihadapi individu pada masa ini adalah adanya tuntutan untuk membantu orang lain di luar keluarganya, pengabdian masyarakat, dan manusia ada umumnya. Pengalamannya di masa lalu dapat menyebabkan individu mampu berbuat banyak bagi kemanusiaan, khususnya bagi generasi yang akan datang. Tetapi bila dalam tahap-tahap yang silam ia memperoleh banyak pengalaman negative, maka ia mungkin terkurung dalam kebutuhan dan persoalannya sendiri.
h.      Ego integrity vs despair
Krisis manusia terakhir adalah integritas versus keputusasaan. Memasuki masa ini, individu akan menengok ke masa lalu. Kepuasan akan prestasi, dan tindakan-tindakannya di masa lalu akan menimbulkan perasaan puas. Bila ia merasa semuanya belum siap dan/atau gagal, akan timbul kekecewaan yang mendalam.
·         Menurut Sigmund Freud
Fase-fase perkembangan individu di dorong oleh energy psikis yang dinamakan libido. Libido adalah energy psikis yang bersifat seksual dan sudah ada sejak bayi. Setiap tahap perkembangan ditandai dengan fungsi dorongan-dorongan dari berbagai bagian tubuh.
1.      Fase Oral (0-1 tahun)
Anak memperoleh kepuasan & kenikmatan yang bersumber dari mulutnya
Contoh : Makan
2.      Fase anal
Pusat kenikmatan terdapat di daerah anus terutama saat buang air besar. Fase ini tepat untuk mengajarkan toilet treaining pada anak.
3.      Fase falik
Pusat kenikmatan terdapat pada daerah kelamin. Anak mulai tertarik pada perbedaan anatomis antara laki-laki dan perempuan. Pada anak laki-laki keterdekatan pada ibunya menimbulkan gairah seksual & perasaan cinta disebut Oedipus Complex. 
4.      Periode laten
Mengalami perkembangan pesat pada aspek motorik dan kognitif. Anak laki-laki lebih banyak bergaul dengan teman sejenis, demikian pula wanita. Fase periode homoseksual alamiah.
5.      Fase genital
Alat reproduksi sudah mulai masak. Energy psikis (libido) diarahkan untuk hubungan heteroseksual. Rasa cintanya pada anggota keluarga dialihkan pada orang lain yang berlawan jenis.
·         Menurut Allport
Menurut Allport, faktor utama tingkah lalu orang dewasa yang matang adalah sifat-sifat yang terorganisir dan selaras yang mendorong dan membimbing tingkah laku menurut prinsip otonomi fungsional.
Kualitas Kepribadian yang matang menurut allport sebagai berikut:
1.      Ekstensi sense of self
·   Kemampuan berpartisipasi dan menikmati kegiatan dalam jangkauan yang luas.
·   Kemampuan diri dan minat-minatnya dengan orang lain beserta minat mereka.
·   Kemampuan merencanakan masa depan (harapan dan rencana)
2. Hubungan hangat/akrab dengan orang lain
Kapasitas intimacy (hubungan kasih dengan keluarga dan teman) dan compassion (pengungkapan hubungan yang penuh hormat dan menghargai dengan setiap orang). Manusia yang sehat secara psikologis memerlakukan orang lain dengan rasa hormat, serta menyadari bahwa kebutuhan, keinginan, dan harapan orang lain merupakan hal yang tidak sepenuhnya asing dengan milik mereka sendiri.
3. Penerimaan diri
Pribadi yang matang menerima diri mereka apa adanya, dan memiliki apa yang disebut Allport (1961) sebagai keseimbangan emosional. Kemampuan untuk mengatasi reaksi berlebih hal-hal yang menyinggung dorongan khusus (misal : mengolah dorongan seks) dan menghadapi rasa frustasi, kontrol diri, presan proporsional.
4. Pandangan-pandangan realistis, keahlian dan penugasan
Kemampuan memandang orang lain, objek, dan situasi. Kapasitas dan minat dalam penyelesaian masalah, memiliki keahlian dalam penyelesain tugas yang dipilih, mengatasi pelbagai persoalan tanpa panik, mengasihani diri, atau tingkah laku lain yang merusak.
5. Objektifikasi diri: insight dan humor
Pribadi yang matang mengenal dirinya sendiri, sehingga tidak mempunyai kebutuhan untuk mengatribusikan kesalahan dan kelemahannya kepada orang lain. Kemampuan diri untuk objektif dan memahami tentang diri dan orang lain. Humor tidak sekedar menikmati dan tertawa tapi juga mampu menghubungkan secara positif pada saat yang sama pada keganjilan dan absurditas diri dan orang lain.
6. Filsafat Hidup
Ada latar belakang yang mendasari semua yang dikerjakannya yang memberikan tujuan dan arti. Contohnya lewat agama.

Sumber :
Dwi, Riyanti B.P, dkk.1996.Psikologi umum 1.Jakarta: Gunadarma
Feist, jess dan Feist, Gregory. J. 2011. Teori kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika

KONSEP KESEHATAN DALAM 5 DIMENSI


Pada umumnya manusia adalah makhluk yang dapat terkena penyakit atau menjaga kesehatannya. Kesehatan nsep yang sering digunakan, tetapi artinya sulit dijelaskan. Menurut  Parkins (1938) sehat adalah suatu keadaan seimbang yang dinamis antara bentuk dan fungsi tubuh dan berbagai faktor yang berusaha mempengaruhinya.
Sedangkan dalam UU Kesehatan No. 23 tahun 1992, kesehatan didefinisikan secara lebih kompleks sebagai keadaan sejahtera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomi. Tidak hanya terbebas dari gangguan secara fisik, mental, dan sosial, tetapi kesehatan dipandang sebagai alat atau sarana untuk hidup secara produktif. Dengan demikian, upaya kesehatan yang dilakukan, diarahkan pada upaya yang dapat mengarahkan masyarakat mencapai kesehatan yang cukup  agar dapat hidup produktif.
 Dalam hal ini saya akan menjelaskan tentang lima konsep kesehatan berdasarkan dimensinya antara lain dimensi fisik, sosial, emosional, intelektual, dan spiritual. Berikut penjelasannya :
·         Dimensi Fisik
Secara umum, manusia dalam dimensi ini mampu mempraktikan gaya hidup yang positif. Kemampuan fisik adalah kemampuan menyelesaikan tugasnya sehari-hari, pencapaian kebugaran (seperti kardiovaskular, paru, dan gastrointestinal), menjaga nutrisi tetap adekuat, dan ketepatan proporsi tubuh dari timbnan lemak, bebas dari penggunaan obat-obatan,alcohol, dan rokok.
·         Dimensi Sosial
Kemampuan social adalah kemampuan berinteraksi secara baik dengan sesame dan lingkungannya, dapat menjaga dan mengembangkan keakraban individu, dan dapat menghargai serta toleran terhadap setiap pendapat dan kepercayaan yang berbeda.
·         Dimensi emosional
Kemampuan emosional adalah kemampuan stress dan mengekspresikan emosinya yang dapat di terima oleh orang lain. Kesehatan emosi mencakup kemampuan untuk bertanggung jawab, menerima, dan menyamaikan perasaannya serta dapat menerima keterbatasan orang lain.

·         Dimensi Intelektual
Kemampuan belajar dan menggunakan informasi secara efektif antar personal, keluarga, dang pengembangan karier. Kesehatan intelektual meliputi usaha untuk secara terus-menerus tumbuh dan belajar untuk beradaptasi secara efektif dengan perubahan baru.

·         Dimensi Spiritual
Percaya adanya beberapa kekuatan (seperti alam, ilmu pengetahuan, agama, dan bentuk kekuatan lain) yang diperlukan manusia dalam mengisi kehidupannya. Setiap individu memiliki nilai moral, dan etika yang dianutnya.

Setiap komponen dalam dimensi di atas dapat mengalami tumpang tindih karena faktor dalam komponen satu secara langsung memengaruhi faktor lain. Seseorang yang belajar mengontrol tingkat stress dari fisiknya diharapkan juga dapat menjaga stamina emosinya yang digunakan dalam menanggulangi krisis. Kesehatan prima mencakup semua aspek kerja dalam model. Identifikasi kesehatan dari berbagai dimensi merupakan hal penting dalam meningkatkan kesadaran kompleksitas konsep sehat.

Sumber :
Effendy, Nasrul. 1998. Dasar-dasar keperawatan Kesehatan Masyarakat.Jakarta: EGC
Heri DJ. Maulana. 2009. Promosi Kesehatan. Jakarta : EGC


Kamis, 11 Oktober 2012

PENGARUH DAMPAK INTERNET TERHADAP PSIKOLOGI WANTIA KARIER


  INTERNET sudah tidak dapat dipisahkan lagi dari kehidupan manusia, begitu pula dengan situs jejaringan sosial yang memudahkan orang berkomunikasi satu sama lain. Uniknya, menurut penelitian, ternyata wanitalah yang paling candu untuk menelusuri jejaringan sosial itu untuk mencari cinta. 
 Internet telah menjadi bagian hidup dari masyarakat saat ini, termasuk wanita karier . Selain memiliki manfaat internet juga dapat memberi dampak negative pada psikologi wanita karier dalam dunia kerja ataupun dalam bersosialisasi. Tentu saja amat dibutuhkan kepedulian oleh pemimpin untuk mencegah terkena dampak negative dari kotak canggih ini.
A.    FAKTOR YANG MEMPENGARUHI WANITA INGIN BEKERJA
Sebelum membahas tentang dampak internet terhadap psikologi wanita karier, sebaiknya kita bahas terlebih dahulu tentang wanita karier.
Banyak persoalan yang dialami oleh para wanita - ibu rumah tangga yang bekerja di luar rumah, seperti bagaimana mengatur waktu dengan suami dan anak hingga mengurus tugas-tugas rumah tangga dengan baik. Ada yang bisa menikmati peran ganda-nya, namun ada yang merasa kesulitan hingga akhirnya persoalan-persoalan rumit kian berkembang dalam hidup sehari-hari.
 Faktor-faktor yang biasanya menjadi sumber persoalan bagi para ibu yang bekerja dapat diberdakan sebagai berikut: 
1.      Faktor internal
Yang dimaksud dengan faktor internal adalah persoalan yang timbul dalam diri pribadi sang wanita atau ibu yang bekerja tersebut. Namun, keadaan "menuntut"nya untuk bekerja, untuk menyokong keuangan keluarga. Kondisi tersebut mudah menimbulkan stress karena bekerja bukanlah timbul dari keinginan diri namun seakan tidak punya pilihan lain demi membantu ekonomi rumah tangga. Biasanya, para ibu yang mengalami masalah demikian, cenderung merasa sangat lelah (terutama secara psikis), karena seharian  "memaksakan diri" untuk bertahan di tempat kerja.
2.      Faktor eksternal
3.      Faktor Relasional
Di atas adalah faktor-faktor yang mempengaruhi wanita untuk bekerja atau menjadi wanita karier.  Setelah mengetahui hal tersebut, saya akan membahas tentang dampak psikologis wanita karier yang menggunakan internet untuk kesehariannya.
B.    DAMPAK PSIKOLOGIS INTERNET
Di bawah ini adalah dampak yang mungkin akan di timbulkan ketika sering menggunakan internet. Adanya faktor pemakaian internet dan dampak yang ditimbulkan.
1.    Perbedaan kepribadian pria dan wanita
Kehadiran komputer dan internet telah merubah dunia kerja, dari tekanan pada kerja otot ke kerja otak.. Implikasinya adalah perbedaan perilaku pria dan wanita semakin mengecil. Kini semakin banyak pekerjaan kaum pria yang dijalankan oleh kaum wanita. Banyak pakar yang berpendapat bahwa kini semakin besar porsi wanita yang memegang posisi sebagai pemimpin, baik dalam dunia pemerintahan maupun dalam dunia bisnis. Bahkan perubahan perilaku ke arah perilaku yang sebelumnya merupakan pekerjaan pria semakin menonjol.
2.      Perkembangan kognitif
3.    Perkembangan seksualitas
4.      Kecemasan teknologi
5.      Pola interaksi antar manusia
A.    DAMPAK PSKOLOGIS WANITA KARIER TERHADAP INTERNET
A.    Teknologi Informasi
Penggunaan internet di Indonesia mengalami perkembangan pesat, terutama di kalangan dunia akademik dan bisnis. Fenomena penggunaan internet di Indonesia dapat dipotret dengan  Technology Acceptance Model ( TAM ). TAM merupakan teori yang menjelaskan minat berperilaku menggunakan teknologi informasi. Menurut Davis ( 1989 ) didalam konsep TAM terdapat dua anteseden penting memprediksi minat berperilaku dalam menggunakan teknologi informasi, yaitu persepsi manfaat  ( Perceived Usefulness ) dan persepsi kemudahan  (Perceived Ease of Use ). Kontribusi gender dalam Tam mampu meningkatkan manfaat dan kemudahan dalam penggunaan internet. Vankatesh dan Morris ( 2000 ) mengatakan bahwa laki-laki lebih dipengaruhi persepsi manfaat dalam  penggunaan teknologi informasi, sedangkan perempuan lebih dipengaruhi oleh kemudahan. 
B.     Kecerdasan Intelektual
Inteligensi/Intelektual adalah kemampuan untuk bertindak secara terarah, berpikir secara rasional dan menghadapi lingkungannya secara efektif. Secara garis besar dapat disimpulkan bahwa inteligensi/ intelektual adalah suatu kemampuan mental yang melibatkan proses berpikir secara rasional. Sehingga intelektual tidak dapat diamati secara langsung, melainkan harus disimpulkan dari berbagai tindakan nyata yang merupakan manifestasi dari proses berpikir rasional. Quotient adalah suatu konsep kuantifikasi yang awalnya diberlakukan dalam rangka pengukuran tingkat kecerdasan ( Sarlito, 2004 ).  
C.    Kecerdasan Emosional
Kecerdasan emosional adalah kemampuan mengenali diri sendiri dan orang lain, kemampuan memotivasi diri sendiri dan mengelola emosi dengan baik pada diri sendiri dan hubngannya dengan orang lain ( Goleman, 2001 ).  Seseorang dengan kecerdasan emosional yang berkembang dengan baik, kemungkinan besar akan berhasil dalam kehidupannya karena mampu menguasai kebiasaan berfikir yang mendorong produktivitas ( Widagdo, 2001 ). Goleman ( 2001 ) membagi kecerdasan emosional yang  dapat memperngaruhi keberhasilan seseorang dalam bekerja ke dalam lima  bagian utama yaitu kesadaran diri,pengaturan diri, motivasi, empati dan ketrampilan sosial
D.    Motivasi Ekonomi
Frederick Herzberg dalam Moizer (1988) menyatakan bahwa faktor motivasi dan situasi yang memberikan pengaruh positif pada perilaku dan kinerja,  berhubungan dengan tugas individu, ukuran sukses dari pekerjaan yang dilakukannya,  dan kemauan untuk berkembang dan maju.  Pada umumnya motivasi kerja kebanyakan tenaga kerja wanita adalah membantu menghidupi keluarga, akan tetapi mereka juga mempunyai makna khusus karena memungkinkannya memiliki otonomi keuangan, agar tidak selalu tergantung pada pendapatan suami. Hal ini merupakan indikator betapa sentralnya posisi wanita dalam ekonomi rumah tangga. Kondisi ini merupakan dorongan penyadaran peran wanita untuk berkiprah di sektor publik. Pembagian kerja dan stereotipe di dalam keluarga telah menyebabkan tidak saja beban berlebihan dan jam kerja panjang bagi perempuan, tapi juga ketergantungan perempuan secara ekonomi. Oleh karenanya perempuan didorong untuk berpartisipasi aktif di sektor publik sekaligus tetap harus menjalankan fungsinya sebagai istri dan ibu (Nursyabani, 1999 ). 
E.     Stres
Gibson ( 1996 ) mendefinisikan stres sebagai suatu tanggapan penyesuaian, perantara oleh perbedaan individual dan proses-proses psikologis, akibat dari setiap tindakan lingkungan situasi atau peristiwa yang menetapkan perintah psikologis atau fisik berlebihan kepada seseorang. Definisi ini memberikan fokus perhatian pada keadaan lingkungan khusus sebagai sumber potensial dari stres. Keadaan seperti ini disebut stresor ( Penyebab stres ).
 Stephen P. ( 1998 ) mengatakan bahwa stres adalah  suatu kondisi dinamik yang didalamnya seorang individu dikonfrontasikan dengan suatu peluang ( Constraints ), kendala atau tuntutan ( Demand ) yang diartikan dengan apa yang sangat diinginkannya dan hasilnya dipersepsikan sebagai tidak pasti dan penting. Hani Handoko ( 1996 ) mengemukakan bahwa stres adalah suatu kondisi ketegangan yang mempengaruhi emosi, proses berpikir dan kondisi seseorang. 
F.     Wanita Karier
Veithzal ( 2002 ) mengatakan bahwa kinerja merupakan seperangkat hasil yang dicapai serta merujuk pada tindakan pencapaian serta pelaksanaan sesuatu pekerjaan yang diminta. Menurut Flipp ( 1996 ) menyebutkan bahwa kinerja adalah suatu hasil yang dicapai oleh pekerja dalam pekerjaannya menurut kriteria tertentu yang berlaku untuk suatu pekerjaan tertentu dan dievaluasi oleh orang-orang tertentu.    
Kesimpulan dan Solusi:
Penggunaan internet pada masa kini dapat member sebuah manfaat yang sangat besar jika kita dapat menggunakannya dengan bijaksana. Tetapi sebaliknya ketika kita menggunakan internet dengan cara yang salah akan menimbulkan akibat-akibat yang merusak diri kita.
Dampak internet bagi psikologis wanita karier sangat berpengaruh karena pada saat bekerja mereka sangat membutuhkan sesuatu yang dapat membimbing mereka untuk melakukan pekerjaan agar mudah dan tepat. Adanya internet dapat mempermudah pekerjaan wanita karier dan mungkin bisa menurunkan tingkat stress pada wanita karier jika ia memakai dengan bijak. Contohnya wanita karier yang lelah karna pekerjaannya dapat mengakses sesuatu situs yang dapat membuat ia senang dan terhibur misalkan chatting dengan temannya agar menghibur dirinya.
Tetapi sebaliknya Internet dapat meningkatkan tingkat stress pada wanita karier jika tidak menggunakannya dengan bijak. Contohnya wanita karier yang menggunakan media social ketika lelah dengan pekerjaannya. Dan ternyata dalam media social tersebut muncul berita-berita yang tidak mengenakan hati ia, dan akhirnya malah meningkatkan tingkat stresnya wanita tersebut
Sesuai perkembangan zaman wanita karier sudah banyak yang merubah pekerjaannya menjadi ibu rumah tangga tetapi bekerja di rumah. Cotohnya membuka usaha online shop, cathering, jasa penitipan anak, dan lainnya.