Jumat, 11 Oktober 2013

Langkah - Langkah dalam Menyusun Perencanaan

Proses penyusunan rencana melibatkan pemikiran ke depan berkaitan dengan apa yang akan diperbuat dengan sumber daya yang tersedia. Dalam menyusun perencanaan yang baik, seorang manajer akan memperhitungkan berbagai pertimbangan berkaitan dengan pengembangan organisasi yang dikelolanya seperti berikut:
1.     Menganalisis dan melakukan prediksi untuk masa yang akan datang.
2.     Menetapkan sasaran jangka panjang dengan menentukan sasaran yang ingin dicapai dan menetapkan hasil yang menjadi target dan tujuan akhir.
3.     Menentukan berbagai kebijakan berkaitan dengan metode kerja yang akan diterapkan.
4. Menyusun jadwal / program yang harus dilakukan dalam rangka pengembangan organisasi.
5.     Melakukan evaluasi anggaran keuangan, dengan menetapkan sumber-sumber keuangan dan mengalokasikan pos-pos pengeluaran yang akan digunakan dalam kegiatan pelaksanaan rencana.
Dengan menyusun perencanaan dalam sebuah organisasi diharapkan setiap bentuk kegiatan akan lebih terfokus pada sasaran yang telah ditetapkan, kinerja lebih efektif, memotivasi pegawai untuk lebih giat dan berprestasi, memudahkan pengawasan, serta memudahkan manajer dalam pengambilan keputusan.


Sumber : 
Supar,M. 2007. Ekonomi 3. Jakarta: Yudhistira Quadra.

Definisi Perencanaan (Palnning)

Dalam bentuk paling sederhana, perencanaan (planning) berarti menetapkan tujuan organisasi dan menentukan bagaimana cara terbaik untuk mencapainya. Perencanaan (planning) adalah memikirkan apa yang akan dikerjakan dengan sumber yang dimiliki. Perencanaan dilakukan untuk menentukan tujuan perusahaan secara keseluruhan dan cara terbaik untuk memenuhi tujuan itu. Manajer mengevaluasi berbagai rencana alternatif sebelum mengambil tindakan dan kemudian melihat apakah rencana yang dipilih cocok dan dapat digunakan untuk memenuhi tujuan perusahaan. Perencanaan merupakan proses terpenting dari semua fungsi manajemen karena tanpa perencanaan, fungsi-fungsi lainnya tak dapat berjalan.

Pengertian / Definisi Perencanaan adalah suatu kegiatan atau proses penganalisisan dan pemahaman sistem, penyusunan konsep dan kegiatan yang akan dilaksanakan untuk mencapai tujuan-tujuan demi masa depan yang baik.

Sumber :
Soekidjo Nototmodjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat (Prinsip-Prinsip Dasar), Cetakan Kedua, Rineka Cipta, Jakarta.


Rabu, 09 Oktober 2013

Apa itu Kepemimpinan?

Kepemimpinan telah di definisikan atas dasar bakat, sifat, perilaku, pengaruh terhadap orang lain, pola interaksi, peran, jabatan, posisi, dan persepsi orang lain mengenai keabsahan kepemimpinan itu sendiri.
Beberapa contoh definisi kepemimpinan adalah sebagai berikut
  • Kepemimpinan adalah perilaku seorang individu ketika ia mengarahkan aktivitas sebuah kelompok menuju suatu tujuan bersama (Hemphill & Coons, 1957:7).
  • Kepemimpinan adalah suatu jenis hubungan kekuasaan yang ditandai oleh persepsi anggota kelompok bahwa anggota kelompok yang lain mempunyai hak untuk merumuskan pola perilaku dari anggota yang pertama dalm hubungannya dengan kegiatannya sebagi anggota kelompok (Janda, 1960: 358).
  • Kepemimpinan adalah pengaruh antarpribadi yang dilaksanakan dan diarahkan melalui proses komunikasi, kearah pencapaian tujuan atau tujuan-tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler & Massarik, 1961:24).
  •        Kepemimpinan adalah interaksi antarmanusia dimana salah satunya menyajikan suatu jenis informasi tertentu sedemikian rupa sehingga yang lain yakin bahwa hasilnya akan lebih baik jika ia berprilaku sesuai dengan cara-cara yang dianjurkan atau diharapkan (Jacobs,1970: 232)
    ·   Kepemimpinan adalah Pengawalan dan pemeliharaan suatu struktur dalam harapan dan interaksi (Stogdill,1974:411).

    Jadi kepemimpinan adalah suatu proses, perilaku atau hubungan yang menyebabkan suatu kelompok
    dapat bertindak secara bersama-sama atau secara bekerja sama atau sesuai dengan aturan atau sesuai
    dengan tujuan bersama.

    Sumber :
    Sarwono, S. Psikologi Sosial : Psikologi Kelompok dan Psikologi Terapan Cetakan 3. 2005.
    Jakarta: Balai Pustaka

Apa Itu Manajemen?

Kata Manajemen berasal dari bahasa Prancis kuno ménagement, yang artinya seni melaksanakan dan mengatur. Menurut Mary Parker Follet,  manajemen sebagai seni menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Definisi ini berarti bahwa seorang manajer bertugas mengatur dan mengarahkan orang lain untuk mencapai tujuan organisasi. Menurut Ricky W. Griffin : sebuah proses perencanaan, pengorganisasian, pengkoordinasian, dan pengontrolan sumber daya untuk mencapai sasaran (goals) secara efektif dan efesien. Efektif berarti bahwa tujuan dapat dicapai sesuai dengan perencanaan, sementara efisien berarti bahwa tugas yang ada dilaksanakan secara benar, terorganisir, dan sesuai dengan jadwal.
Istilah manajemen mengandung tiga pengertian yaitu :
1. Manajemen sebagai suatu proses,
2. Manajemen sebagai kolektivitas orang-orang yang melakukan aktivitas manajemen,
3. Manajemen sebagai suatu seni (Art) dan sebagai suatu ilmu pengetahuan (Science)

Manajemen adalah ilmu atau seni dalam perencanaan, pengoragnisasian, pengarahan, pengmotivasian,dan pengendalian terhadap suatu mekanisme kerja agar tercapainya tujuan yang efektif dan efisien.

Manajemen adalah serangkaian aktivitas ( termasuk perencanaan dan pengambilan keputusan, pengorganisasian, kepemimpinan dan pengendailian) yang diarahkan pada sumber-sumber daya organisasi (manusia, financial, fisik, dan informasi) dengan maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efisien dan efektif.

Manajemen merupakan sebuah proses yang khas, yang terdiri dari tindakan-tindakan: perencanaan, pengorganisasian, penggiatan, dan pengawasan yang dilakukan untuk menentukan serta mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan melalui pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber lainnya. (George R. Terry)


Manajemen adalah ilmu dan seni mengatur proses pemanfaatan sumber daya manusia dan sumber-sumber daya lainnya secara efektif dan efisien untuk mencapai tujuan tertentu. (Hasibuan, 1991)


Sumber :
John M,Ivancevich dkk. Perilaku dan Manajemen Organisasi.2008.Erlangga
Griffin, R.Manajemen Edisi ke 7 jilid 1.2004.Jakarta:Erlangga
Suprapto,T. PEngantar Teori dan Manajemen Komunikasi.2009 Medpress : Yogyakarta

Rabu, 12 Juni 2013

Pengalaman Penulis Terkait Penulis Tentang Stress yang Pernah dialami

Pengalaman Saya terkait stress negative:
Saya mempunyai pengalaman tentang bagaimana cara saya untuk menghadapi suatu masalah yang mungkin dapat menimbulkan stress. Pada waktu saya berumur 7 tahun saya adalah anak yang mungkin mengalami susah sekali beradaptasi dan tidak ada semangat untuk masuk sekolah. Entah kenapa setiap mendengar kata “besok kamu udah masuk sekolah lagi ya?” pasti mentalku langsung menurun. Itu adalah kalimat yang tidak bisa ditermia oleh telingaku dan membuat darah di tubuhku mengalir cepat karna timbul rasa khawatir dan takut. Faktor pertama yang membuat saya takut bersekolah adalah saya harus beradaptasi, saya harus mandiri, saya harus bisa jauh dari orang tua karna jarak dari sekolah dan rumah cukup jauh, saya harus bisa menerima hal baru dan saya sangat takut dengan berbagai konflik dengan teman-teman di sekolah. Pada saat SD setiap saya sekolah selalu minta ditemani oleh ayah saya karna saya tidak percaya diri untuk bersekolah tanpa orang yang saya kenal. Selama itu saya sangat pendiam dan takut untuk bersosialisasi.
Pengalaman Saya terkait stress positif :
 Setelah saya melewati semua itu saya mencoba untuk mandiri dengan cara melawan rasa takut dan khawatir tersebut. Perlahan saya menjalani itu, walaupun tidak semulus yang saya bayangkan. Lumayan banyak konflik yang saya lewati saat itu, seperti dimusuhin teman secara tiba-tiba dan nilai saya yang bisa dibilang tidak membanggakan untuk orang tua saya. Hal tersebut membuat mental saya down.

Tetapi pada saat itu seiringnya waktu berjalan saya dapat mengatasi hal tersebut dengan kepercayaan diri saya. Dan sampai saat ini perasaan yang dulu saya rasakan masih ada dalam diri saya tetapi selalu saya hadapi dan saya lawan perasaan itu. Sampai pada akhirnya saya mudah beradaptasi dengan orang-orang disekitar saya dengan membuat mereka nyaman dan terhibur karna hanya itu yang saya bisa. Dan terbukti sifat saya ini dapat membuat saya lebih baik dari sebelumnya.

STRESS

      I.            Pengertian Stress
Stress adalah bentuk ketegangan dari fisik, psikis, emosi maupun mental. Bentuk ketegangan ini mempengaruhi kinerja keseharian seseorang. Bahkan stress dapat membuat produktivitas menurun, rasa sakit dan gangguan-gangguan mental. Pada dasarnya, stress adalah sebuah bentuk ketegangan, baik fisik maupun mental. Sumber stress disebut dengan stressor dan ketegangan yang di akibatkan karena stress, disebut strain.
Stress suatu respon fisiologis,psikologis dan perilaku dari manusia yang mencoba untuk menadaptasikan dan mengatur baik tekanan internal maupun eksternal. Stres (Stress) adalah respon individu terhadap keadaan atau kejadian yang memicu stress (stresor), yang mengancam dan mengganggu kemampuan seseorang untuk menanganinya (coping).
Berikut ini adalah faktor – faktor yang dapat menimbulkan stress :
a.      Kepribadian
·         Introvert dan Ekstrovert
Menurut Jung, introvert atau introversi adalah aliran energy psikis kea rah dalam yang memiliki orientasi subjektif. Introver memiliki pemahaman yang baik terhadap dunia dalam diri mereka, dengan semua bias, fantasi, mimpi, dan persepsi yang bersifat individu. Orang-orang ini akan menerima dunia luar dengan selektif dan dengan pandangan subjektif mereka. Introvert sifat yang pemalu biasanya ingin menahan orang lain paling tidak dengan jarak sedikit jauh darinya bahkan mungkin menurutnya lebih baik jika orang tersebut lebih jauh dari dirinya.
Kontras dengan introvert, Ekstrovert atau ekstraversi adalah sebuah sikap yang menjelaskan aliran psikis kearah luar sehingga orang yang bersangkutan akan memiliki orientasi objektif dan menjauh dari subjektif. Ekstrover akan lebih mudah untuk dipengaruhi oleh sekelilingnya disbanding oleh kondisi dirinya sendiri. Mereka cenderung untuk berfokus pada sikap objektif dan menekan sisi subjektifnya.
·         Fleksibel dan rigid
Tipe seseorang yang fleksibel adalah dimana seseorang dapat menempatkan dirinya atau mengkondisikan diri di tempat mereka berada. Mereka mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan dan tidak kaku (rigid). Mereka mudah bergaul dengan siapa saja tetapi tetap memiliki pendirian. Sedangkan rigid (kaku) mempunyai sifat yang bertolak belakang atau kebalikan dari fleksibel.



·         Overactivity
Pribadi yang over activity adalah mereka yang terlalu agresif atau berlebihan dalam menuangkan segala suasana hati, bahkan sampai berlebihan dalam menghadapi kondisi lingkup sosial.

b.      Kecakapan
Seseorang yang mendapat berbagai kesulitan atau hambatan dalam hidupnya biasanya mempunyai berbagai macam pilihan antara seseorang tersebut memilih menghadapi hambatan tersebut atau dengan lari dari suatu masalah tersebut. Dalam hal ini seseorang mempunyai kecakapan yang berbeda dalam menangani masalah yang akan mereka hadapi. Kecakapan tersebut dapat bermula dengan mengatur emosi dan pikiran yang ada dalam diri seseorang tersebut. Memecahkan masalah (problem solving) adalah tindakan yang terbaik dalam menghadapi suatu masalah dengan membuat suatu keputusan yang dapat memecahkan masalah agar mencapai suatu tujuan yang kita inginkan.
c.       Nilai dan Kebutuhan.
ü  Sosialisasi
Dalam suatu kehidupan kita butuh bersosialisasi dengan berbagai orang yang ada dalam lingkungan kita. Manusia adalah makhluk sosial, makhluk yang pasti membutuhkan orang lain untuk membantu suatu masalah yang tidak dapat di hadapi oleh orang tersebut secara sendirian.
ü  Adaptasi
Manusia butuh beradaptasi terhadap lingkungannya agar mereka mengetahui apa yang dibutuhkan dan apa yang harus dijalanakan. Dan dengan cara beradaptasi manusia dapat diterima di dalam lingkungannya.
ü  Internalisasi

Reaksi Stress :
Reaksi stress pada manusia ada dua yaitu flight or fight. Istilah tersebut adalah flight berarti lari dari masalah sedangkan fight mempunyai makna yang berarti bertahan atau melawan masalah dan mencari jalan keluarnya. Kedua hal tersebut yang selalu kita hadapi setiap mendapatkan suatu masalah.
Ketika kita tidak kuat menahan suatu beban dalam hidup kita, kita cenderung melarikan diri dari suatu masalah (Flight) tersebut agar mendapat suatu ketenangan. Padahal itu akan memperburuk suatu masalah dan perilaku tersebut membuat kita akan semakin stress. Tetapi ketika memilih untuk bertahan atau mencari jalan keluar (fight) dari masalah tersebut, maka kita akan merasa lega dan mendapatkan pelajaran yang berharga.




Teknik-teknik penanganan pikiran
Ø  Meditasi
Teknik ini dapat menenangkan pikiran dan menghilangkan masalah-masalah yang sedang kita alami. Meditasi biasanya seperti proses terapi menenangkan diri dengan berpikiran positif dan menghilangkan hal negative dalam diri kita.
Ø  Autogenic
Teknik ini adalah relaksasi yang ditimbulkan oleh diri sendiri demi mendapat suatu ketenangan dan menghilangkan kepenatan. Setiap individu memiliki cara yang berbeda-beda untuk menghilangkan suatu masalah. Seperti melakukan hal-hal yang dapat membuat kita senang. Contoh seperti bermain game, pergi jalan-jalan dengan teman dan lain-lain.
Ø  Neuro muscular
Neuro mascular adalah syaraf otot. Biasanya hal ini untuk merefleksikan otot-otot yang kejang atau meregangkan otot. Seperti punggung, bahu, tangan, leher, kaki dan bagian tubuh lainnya.

Biasanya untuk merefleksikan otot-otot yang tegang seperti yang diatas, teknik merefleksikan badan ini dengan cara seperti di pijat pada daerah tertentu terhadap tubuh yang kita rasakan sakit.

Sumber : 
Santrock, John.W . 2003. Adolescence, Edisi Keenam. Jakarta: Erlangga
Feist, J dan Feist, Gregory. J. 2011. Teori kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika

Jumat, 03 Mei 2013

Teori Behaviorisme


Albert Bandura
Bandura tergolong tokoh yang boleh dikatakan muda dan yang terkenal dengan teorinya yang kemudian disebut Teori Sosial-Belajar. Teori-teori yang dikemukakannya mempengaruhi pula meluasnya teknik-teknik psikoterapi dengan dasar teori belajar untuk melakukan perubahan-perubahan tingkah laku.
Salah satu asumsi dasar teori kognisi social Bandura adalah bahwa manusia cukup fleksibel dan mampu mempelajari berbagai sikap, kemampuan, dan perilaku, serta cukup banyak dari pembelajaran tersebut yang merupakan hasil dari pengalaman tidak langsung.
Pembelajaran Melalui Observasi
Menurut Bandura, dalam situasi social ternyata orang bisa belajar lebih cepat dengan mengamati atau melihat tingkah laku orang lain. Manusia mengobservasi fenomena alami, tumbuhan, hewan, air terjun, pergerakan bulan dan bintang-bintang, dan lainnya. Tetapi yang penting bagi teori kognitif social adalah asumsi bahwa mereka belajar melalui observasi perilaku orang lain.Bandura yakin bahwa pembelajaran melalui observasi lebih efisien dari pada belajar melalui pengalaman langsung.
Modelling
Inti dari pembelajaran melalui proses observasi adalah modeling. Modeling lebih dari sekedar mencocokan perilaku dari orang lain, melainkan merepresentasikan secara simbolis suatu informasi dan menyimpannya untuk digunakan di masa depan (Bandura, 1986, 1994)
Proses yang Mengatur Pembelajaran Melalui Observasi
Bandura mengemukakan empat komponen dalam proses pembelajaran melalui observasi yakni :
Ø  Perhatian
Sebelum melakukan peniruan terlebih dahulu, orang menaruh perhatian terhadap model yang akan ditiru. Keinginan untuk meniru model karena model tersebut memperlihatkan atau mempunyai sifat dan kualitas yang hebat, yang berhasil, anggun, berkuasa dan sifat-sifat lain. Keinginan memperhatikan dipengaruhi oleh kebutuhan-kebutuhan dan minat-minat pribadi
Ø  Representasi
Representasi simbolik tidak perlu dalam bentuk verbal, karena beberapa observasi dipertahankan dalam bentuk gambaran dan dapat dimunculkan tanpa adanya model secara fisik. Walaupun begitu, pengodean secara verbal akan meningkatkan kecepatan proses pembelajaran melalui observasi.
Ø  Produksi Perilaku
Setelah memperhatikan seorang model dan mempertahankan apa yang telah di observasi, kemudian kita memproduksi perilaku tersebut. Dalam proses mengubah representasi kognitif ke dalam tindakan yang tepat, kita harus bertanya pada diri kita beberapa pertanyaan mengenai perilaku yang akan ditiru.
Ø  Motivasi
Pembelajaran melalui observasi paling efektif terjadi apabila pihak yang belajar termotivasi untuk melakukan perilaku yang ditiru. Perhatian dan representasi dapat berakibat pada pengumpulan informasi untuk belajar, namun performa difasilitasi oleh motivasi untuk melakukan perilaku tertentu.

Triadic Reciprocal Causation
Konsep Bandura mengenai triadic reciprocal causation. Fungsi manusia merupakan hasil interaksi antara perilaku (behaviour), Variabel manusia (person variable) dan lingkungan (environment).
Agen Manusia
Agen manusia adalah esensi dari kemanusiaan. Bandura yakin bahwa manusia bersifat meregulasi diri sendiri, proaktif, merefleksikan diri dan dapat mengatur diri sendiri serta mempunyai kekuatan untuk memengaruhi tindakan mereka sendiri untuk menghasilkan konsekuensi yang diinginkan.
Efikasi Diri
Bagaimana manusia bertindak dalam suatu situasi bergantung pada hubungan timbale balik dari perilaku, lingkungan, dan kondisi kognitif, terutama faktor-faktor kognitif yang berhubungan dengan keyakinan bahwa mereka mampu atau tidak mampu melakukan sesuatu perilaku yang di perlukan untuk menghasilkan pencapaian yang diinginkan dalam suatu situasi. Bandura (1997) menyebut ekspektasi ini sebagai efikasi diri (self-efficacy)
Agen Proxy
Proxy meliputi control yang tidak langsung atas kondisi social yang dapat memengaruhi kehidupan sehari-hari. Bandura (2001) mengatakan bahwa “tidak ada orang yang mempunyai waktu, energy, dan sumber daya untuk dapat menguasai semua aspek kehidupan sehari-hari. Untuk dapat berfungsi dengan sukses, seharusnya melibatkan kombinasi ketergantungan pada agen proxy dalam beberapa area fungsi.”
Efikasi Kolektif
Bandura (2000) mendefinisikan efikasi kolektif sebagai “keyakinan yang dimiliki manusia mengenai efikasi kolektif mereka untuk mencapai hasil yang diinginkan”. Dengan perkataan lain efikasi kolektif adalah kepercayaan orang-orang bahwa usaha mereka bersama akan membawa suatu pencapaian kelompok.
Regulasi diri
·         Eksternal
ü  Standar untuk evaluasi prilaku. Adanya faktor lingkungan berinteraksi dengan pengaruh personal
ü  Cara mendapatkan penguatan. Penghargaan instrinsik tidak cukup, karna butuh insentif yang di dapatkan dari faktor luar.
·         Internal
ü  Judgemental proses atau penilaian diri
ü  Observasi diri
ü  Reaksi diri

Moral Agency
·         Membantu orang lain
·         Tidak menyakiti orang lain.

Daftar Pustaka :
Feist, J dan Feist, Gregory. J. 2011. Teori kepribadian, edisi 7. Jakarta: Salemba Humanika
Semiun, Y. 2006. Kesehatan Mental 1. Yogyakarta : Kanisius
Singgih D. Gunarsa. 2008. Dasar dan Teori Perkmbangan anak  .Jakarta: PT BPK Gunung Mulia